Deskripsi Buku
Buku kategori puisi yang berjudul Catatan yang terlupakan merupakan buku karya dari Jhon Mayer Hamonangan Siahaan. Buku ini terdiri dari beberapa bab. Bab pertama berisi tentang cinta, bab dua berisi tentang keluarga, bab tiga berisi tentang sahabat, dan bab empat berisi tentang teruntuk Indonesia. Jika airmata bisa gantikan rasa dingin yang kurasakan saat ini. Mungkin aku bisa salahkan malam karena tega memisahkan kita. Tapi akupun tak tahu ini salah siapa. Sesosok yang kucinta adalah pria pertama bukan mereka yang lainnya. Apakah ia bisa menjadi satu-satunya? Mengapa kau menjanjikanku cerita tua saat kau tak sedikitpun mampu menikmatinya Sayangku, Teruslah tersenyum dan jangan menyerah, Setiap malam lakukan tugasmu, Tidurkan anak-anak dan jangan lupa untuk terlelap. Sayangku, Ingatlah hari saat aku masih menggenggam tanganmu, Semua cinta yang kusampaikan adalah tanda kasih saat aku sudah meninggalkanmu, Jangan tangisi apa yang belum aku sampaikan kepadamu. Cari tahu apa yang kuceritakan dulu dan lakukan itu. Semaumu “Intinya kau harus bisa lebih baik dari semuanya, karena pada akhirnya aku yang jadi nahkodanya saat bersamamu atau siapapun nantinya, untuk yang paragraf 4 dan 5 sedang aku dalami bahkan sebelum kenal denganmu”. Saat ini aku hanya bisa bersembunyi di balik kerudung hitamku, menutupi semua kekesalan yang sedang kurasakan. Aku selalu berusaha mencari yang sama sepertimu, Tapi hingga kelembah semeru tak pernah kutemukan dia. Kita terlalu mengabaikan semua persamaan, Terlalu sibuk memikirkan perbedaan, Memaksakan keduanya untuk mengaliri setiap kejadian dalam kehidupan. Mengenalmu adalah sesuatu yang menusuk jantungku, Menggenggamnya terlalu keras, tetapi aku mengabaikannya, Hingga aku mati tak mengetahuinya, Hanya merasakan bekas remukan yang memaksaku semakin mati karenanya, Hari ini aku menyadari bahwa kemunafikan bukan sekedar kepura-puraan, Tetapi sebuah kesalahan yang akupun juga melakukannya… Ketika ketakutan menjauhkan kita, Maka penyesalan bukanlah hal pertama yang kita rasakan Introspeksi diri untuk menyadari siapa diri ini… Aku mengenalmu sama seperti mengenal diriku Memperhatikan kebiasaanmu sama seperti menghapal setiap langkahku, Tapi kenapa saat aku mulai memperlajari semua ini hubungan ini terhenti…Mana mungkin bisa aku menemukan cinta yang lain. Jika saat ini aku tak pernah mampu untuk mendustakan cintamu. Saat-saat aku berlaripun bayanganmu masih terasa nyata dalam pandanganku. Apakah mungkin aku bisa melupakanmu dan mencari yang lain “Jika memang jodoh pasti bertemu kembali” itu katamu. Benar memang, bukan saat ini kita bersama-sama, Tapi saat ini sudah seharusnya kita untuk saling meyakinkan. Menggemgam satu sama lain. Bukankah kau juga merasa betapa berat untuk saling meninggalkan Untuk saling sengaja tidak memandang. Dihantui ketakutan untuk saling bertatapan. Memaki untuk sekedar membenci tapi tak mau melupakan. Bisa jadi karna kita tak berani untuk mengkhianati janji. Jangan bermain api kalau tak mau merasakan ini, Tapi semua sudah terlanjur kita lalui.